Penindasan Baru yang Lahir dari Revolusi dalam Buku Animal Farm

Penindasan Baru yang Lahir dari Revolusi dalam Buku Animal Farm

Sumber Gambar: Dok/LPMProgress/FidaZahra

 

Judul Buku: Animal Farm

Penulis : George Orwell

Penerjemah : Bakdi Soemanto

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 140 Halaman

Nomor Edisi : ISBN 978-602-291-070-1

Animal Farm adalah novel alegori politik karya George Orwell yang pertama kali diterbitkan pada 1945. Melalui cerita berisi kritik atau sindiran yang dibalut fabel, Orwell menggambarkan kehidupan para hewan di sebuah peternakan yang dikuasai manusia bernama Pak Jones.

Pemilik peternakan itu bertindak tidak adil, hanya memberi makan seadanya, memaksa hewan bekerja terus menerus, dan memperlakukan mereka layaknya alat produksi semata.

Cerita bermula ketika seekor babi tua yang bijaksana bernama Major menggelar rapat rahasia di malam hari. Dalam pidatonya, Major mengajak hewan-hewan melawan penindasan manusia dan menginginkan kehidupan yang setara bagi seluruh hewan.

Tak lama setelah pidato penuh semangat itu, Major meninggal dunia. Kepemimpinan pun dilanjutkan oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon, yang memimpin pemberontakan hingga berhasil mengusir Pak Jones dari peternakan.

Di bawah kepemimpinan Snowball dan Napoleon, kehidupan di peternakan sempat membaik. Hewan-hewan bekerja sama, makanan dibagi secara adil, dan hidup dalam semangat kesetaraan.

Mereka bahkan menyusun sejumlah aturan, salah satunya adalah “semua hewan setara dan tidak ada yang boleh bertindak seperti manusia”. Namun, semua itu tak bertahan lama.

Seiring berjalannya waktu, Napoleon menunjukkan ambisi tersembunyi. Dengan kelicikannya, ia menyingkirkan Snowball dan mulai menguasai kekuatan untuk dirinya sendiri.

Napoleon dan beberapa hewan yang ditunjuk menjadi bawahannya perlahan mulai menyerupai penindas yang dulu mereka lawan.

Aturan-aturan yang dahulu dibentuk dan disepakati untuk menjamin keadilan mulai dimanipulasi. Semua kebijakan diarahkan demi keuntungan Napoleon dan kelompok kecil di sekelilingnya.

Hingga pada akhirnya, beberapa hewan mulai menyadari bahwa keadaan mereka tak lebih baik dari masa kepemimpinan Pak Jones. Penindasan tetap ada, bedanya kini pelakunya berasal dari kalangan mereka sendiri.

Lewat novel ini, Orwell menyindir bahwa kekuasaan yang tidak diawasi bisa merusak siapapun, bahkan kepada mereka yang awalnya berniat baik untuk sebuah keadilan.

Ia menunjukkan bahwa perubahan yang katanya demi kesetaraan sering kali menyimpang dari tujuan awal dan malah melahirkan penindasan baru. 

Orwell menunjukkan bahwa kekuasaan yang tidak diawasi lama-lama bisa merusak siapa pun yang memegangnya. Hal ini terlihat jelas pada tokoh Napoleon, babi yang awalnya ikut berjuang bersama hewan lain demi kesetaraan, tetapi kemudian berubah menjadi penindas yang sama kejamnya dengan manusia yang dulu mereka lawan.

Sejak awal sebenarnya tanda-tanda itu sudah terlihat. Salah satunya ketika Napoleon menyimpan susu dan beberapa makanan hanya untuk para babi, padahal itu semua hasil kerja keras yang semua hewan dapatkan di peternakan.

Dalam Animal Farm, janji kehidupan setara bagi semua hewan berubah menjadi kenyataan pahit ketika aturan-aturan diubah demi kepentingan segelintir pemimpin.

Orwell juga menyoroti bagaimana masyarakat (dalam hal ini para hewan) bisa menjadi pasrah, mudah lupa, dan tidak berani melawan ketidakadilan, sehingga membuat kekuasaan terus bertahan.

Kutipan paling terkenal yang menggambarkan pengkhianatan atas prinsip kesetaraan adalah kalimat:

“Semua binatang setara, tetapi beberapa binatang lebih setara daripada yang lain.”

Kalimat ini jelas memperlihatkan bagaimana aturan yang awalnya “semua hewan setara” perlahan dipelintir oleh para pemimpin babi untuk meneguhkan kekuasaan mereka.

Aturan-aturan pun diubah sesuka hati, seperti mengizinkan tidur di ranjang, minum alkohol, hingga tinggal di rumah manusia. Semua yang dulu dianggap larangan akhirnya dijadikan sah, selama itu menguntungkan Napoleon dan kelompoknya.

Kekuasaan yang tidak diawasi lama-kelamaan bisa merusak siapa saja yang memegangnya. Dalam novel ini, hanya para babi dan anjing yang bisa membaca dan menulis.

Peternakan memang pernah membuka ‘sekolah’ bagi hewan-hewan lain, tapi kebanyakan dari mereka kesulitan belajar sehingga tetap buta huruf dan tidak tahu apa-apa. Kondisi ini membuat mereka bergantung penuh pada apa yang disampaikan para babi, tanpa bisa memverifikasi kebenaran.

Melalui Animal Farm, Orwell secara gamblang mengingatkan bahwa kekuasaan memang rentan korupsi, apalagi jika tidak ada pengawasan. Niat baik bisa berubah jadi tirani, dan kesetaraan yang dijanjikan hanya menjadi topeng untuk menutupi kepentingan segelintir penguasa.

Buku ini menjadi bacaan yang layak direkomendasikan, bukan hanya karena ceritanya yang relatif singkat dan mudah dipahami, tetapi juga karena pesan politik dan sosial yang kuat dan masih relevan hingga saat ini.

Melalui kisah sederhana tentang hewan-hewan di peternakan, Orwell berhasil menyampaikan kritik terhadap kekuasaan yang korup, manipulasi, dan ketidakadilan. Buku ini sangat cocok bagi siapapun yang ingin memahami bagaimana kekuasaan bisa membentuk dan menghancurkan sebuah masyarakat.

Penulis: Fida Zahra

Editor: Khoiru Nisa