Sapuan Lidi, Suara Perempuan Melawan Kekerasan Negara

Sapuan Lidi, Suara Perempuan Melawan Kekerasan Negara

Sumber gambar: Irma Faurina

 

LPM Progress - Rabu (03/09). Aliansi Perempuan Indonesia (API) menggelar aksi protes bertajuk “Perempuan Melawan Kekerasan Negara” di depan Gerbang Utama DPR RI, Jakarta. Aksi ini bertujuan untuk menuntut penghentian kekerasan aparat, penarikan peran militer dari urusan sipil, dan pembebasan tahanan demonstrasi, yang dihadiri berbagai organisasi seperti Perempuan Mahardhika, Emancipate Indonesia, Arus Pelangi, dan lain-lain.

 

Dalam aksi ini, API merumuskan tuntutan yang diantaranya adalah penghentian kekerasan negara, penarikan keterlibatan TNI dalam urusan sipil, pembebasan demonstran yang ditangkap, pencopotan pimpinan kepolisian, dan pembentukan tim independen yang melibatkan Komnas HAM untuk mendokumentasikan dugaan pelanggaran HAM.

 

Mutiara Ika Pratiwi, Ketua Perempuan Mahardhika, turut mengkritik pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut demonstrasi rakyat mengarah kepada makar. Protes bukanlah anarkisme, melainkan hak demokratis yang melekat pada setiap warga negara. 

 

Namun, protes rakyat justru kerap dijawab negara dengan kekerasan melalui tangan Polri dan TNI. Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI) yang menyebut setidaknya 3.337 orang ditangkap, 1.042 mengalami luka-luka, dan sepuluh orang meninggal akibat tindakan aparat. 

 

Data ini diperoleh dari rentan waktu 25 Agustus 2025 hingga 2 September 2025. “Itu yang melatarbelakangi aksi kami pada siang hari ini, karena kami tidak setuju. Sekarang kami merasa marah dan kecewa pada statement tersebut,” ujar Ika saat diwawancarai di depan DPR RI, Rabu (03/09).

 

Adapun dalam aksi massa ini menjadikan sapu lidi sebagai simbol pembersihan praktik dan korupsi, sekaligus warna pink dan hitam yang memenuhi aksi massa. Tunggal, salah satu massa aksi, menjadi salah satu yang menggunakan atribut tersebut. 

 

“Sapu lidi dipakai sebagai simbol untuk menyapu praktik kekerasan dan korupsi; warna pink dan hitam menunjukkan keberanian perempuan dan duka sekaligus,” ujar Tunggal saat diwawancarai di depan Gerbang Utama DPR RI, (03/09).

 

Aksi ini juga disiapkan layanan juru bahasa isyarat untuk memastikan aksesibilitas peserta. Rangkaian aksi meliputi orasi, pembacaan pernyataan sikap dan puisi, penempelan cap tangan pada kain hitam, doa untuk korban, lapak baca, hingga posko medis.

 

Melalui aksi protes tersebut, API menyerukan agar masyarakat berani bersuara dan bersatu melawan kekerasan negara. Mutiara Ika Pratiwi juga berharap agar demonstran yang tertangkap segera dibebaskan. “Bebaskan demonstran sekarang juga,” ujar Ika dalam penyampaiannya, (03/09).

 

Penulis: Muhammad fikri

Editor: Anisa Adiyanti